Kenapa kita harus mulai berhenti mengatakan "GWS World" dan mulai mengutuki diri sendiri.



DISCLAIMER : KONTEN INI MUNGKIN AGAK SENSITIF, TAPI KALAU ENGGA SENSITIF YA BERARTI KAMU GAK PEKA, UDAH GITU AJA.

Jadi ceritanya begini, tadi sebelum saya berangkat ke kantor warung, saya melewati banyak sekali gang-gang yang aksesnya ditutup oleh masyarakat. Ya tentu dan so pasti kita sudah tahu alasannya, karena si Kang Mas Al Imam Al Mukarrom Assyaikh Corona bin Covid 19. Dan pemandangan ini sudah lumrah dalam sebulan kebelakang terutama di wilayah Sleman dan sekitarnya. Warga mulai rajin menutup akses, menyemprot2 kan gas air mata disinfektan dan juga memberikan cairan hand sanitizer yang harumnya beragam. Kadang harum Harpic dan kalau kamu beruntung kamu dapat harum Wipol yang notabene "Seharum bunga cemara.. Uu.. Uu..".
Awalnya sih saya merasa wajar, karena toh memang ada himbauan dari pemerintah untuk melakukan Social Distancing dan Physical Distancing. Lagi pula sudah se-yogyanya kita sebagai masyarakat yang mendukung paslon yang sekarang didukung paslon satunya untuk meningkatkan kewaspadaan karena efeknya yang luar biasa menghantam sanubati. Tapi oh tapi, ketika saya melewati salah satu gang, saya melihat sebuah tulisan "GWS World" yang ditulis di sebuah spanduk yang ditempel terbalik dengan pilox berwarna merah.
Perasaan apa ini.. Narutoo!! Tangan saya jadi gatal untuk menuliskan ini, dan surat terbuka ini untuk anda-anda yang memiliki pola pikir GWS World dalam masa pandemi dari seorang pelaku usaha UMKM yang terdampak langsung wabah virus Sars-CoV-2. Berikut Isinya :

"Hai anda, iya anda yang menulis "GWS World", anda yang menghitung-hitung uang, uang yang tersisa untuk bertahan di masa pandemi. Sadarlah wahai Bani Adam, sesungguhnya dunia justru sembuh dengan sakitnya ras anda, makhluk sejenis anda. Alangkah baiknya menuliskan tulisan "GWS Entire Human Race", atau ganti dengan "GWS IHGS", atau GWS-GWS lain yang bisa kamu tulis selain kata "world". Sejatinya dunia ini bukan tentang manusia, dunia ini tentang beragam hayati flora dan fauna, plankton dan entitas-entitas lain yang disebutkan di RPUL yang di cetak dengan pohon yang ditebang dan menyebabkan dunia sakit. Ketika ras anda sakit, berdiam diri di rumah, dan tak meninggalkan jejak kotornya di bumi, bumi bersyukur, langit pun bersyukur karena banyak knalpot dan cerobong asap yang mati semasa pandemi. Asal kalian tau saja manusia, bisa jadi hewan yang kalian sering sebut-sebut ketika kalian mengumpat pun menyebut nama kalian saat mereka saling mengumpat "hei kamu jangan rebut makananku, Manusia kamu" kata mereka. Kalau kamu ingin nge-GWS-in ya GWS-in aja dirimu sendiri dan berhentilah untuk menyakiti dunia, sebelum semesta murka dan mengganti ras mu, bangsamu, makhluk sejenismu"
Intinya adalah, ada satu hal yang harus kita syukuri atas kejadian pandemi ini, yaitu sembuhnya bumi sembuhnya dunia, sembuhnya alam semesta. Ekonomi, sosial, politik itu semuakan buatanmu, bualanmu, namun dunia, alam semesta dan seisinya itu semua ciptaan tuhan/Allah (bagi saya karena saya percaya) dan bukan bualan, tanpa tipu-tipu dan murni. jadi, sembuhkan dirimu, berjuanglah, dan upayakan semaksimal mungkin untuk tidak lagi menyakiti bumi. semoga kita bisa ambil pelajaran dari kejadian pandemi ini.

Wallaahu'alam Bisshawaab.

Komentar