Ada Apa Dengan Stafsus Milenial? ("Kilas balik Staff khusus milenial buat kamu yang bertanya-tanya Stafsus Milenial emang ngopo to?")
DISCLAIMER : TULISAN INI MENGANDUNG MUATAN POLITIK NAMUN BUKAN BERARTI SAYA MENDUKUNG SATU DAN LAIN PIHAK DALAM BERPOLITIK. SANTAI AJA.
"Stafsus milenial emang ngopo to?"
Belakangan ini banyak orang yang bertanya-tanya tentang polemik stafsus milenial yang notabene katanya menjadi sebuah gerakan baru dalam dunia percaturan politik Indonesia. Wow! setelah menulis kalimat barusan mendadak saya jadi bangga pada diri sendiri, soalnya kesannya berbobot bangeudh. Jadi ya, karena banyaknya pertanyaan dan sebagian meributkan hal yang sebenarnya mereka tidak punya kilas balik kenapa kok staf khusus milenial ini kok ya diributkan, nah yuk mari, melalui artikel ini, saya ajak kamu naik mesin waktu untuk mundur ke waktu kampanye pilpres hingga ke hari ini. yuk..
Nb : Setiap apapun yang saya kutip dan saya catut pernyataannya pada artikel ini akan saya berikan rujukan linknya sehingga kamu bisa akses dan mengecek sendiri oke..
Berikut lini masanya
Pilpres
Kamu masih ingat pilpres paling malesin dan banyak makan korban 2019 kemarin? ya, sepanjang saya mengikuti kontestasi politik (sebagai pemilih), saya tidak pernah merasa semalas ini untuk melangkah ke TPS. Alasannya? banyak, dari mulai capres yang isinya itu lagi itu lagi (udah kayak nonton Avengers End Game lawannya Tanos lagi Tanos lagi), debat presiden yang sama sekali tidak ada pembaharuan (petahana hanya membanggakan yang sudah dicapai dan penantang hanya menyalahkan apa yang sudah dilakukan petahana) sampai kertas suara yang tebalnya bukan main, dan ditambah jumlah kematian yang tidak kita nyana-nyana sebelumnya. Ini pilpres atau Corona sih? Ya Allah tolong hamba.
Nah, kenapa ke masa pilpres? karena lahirnya Stafsus Milenial dimulai dan diawal dari sini. Ya, Stafsus Milenial sebenarnya adalah perwujudan janji yang agak bergeser dari seharusnya. Pada awalnya presiden berkata bahwa beliau akan angkat menteri muda dan bentuk kementrian baru dan beliau juga memastikan bahwa jumlahnya akan lebih dari satu dan menyeleksi 60 nama orang muda dibawah 30 tahun.
Kenyataannya, hanya ada satu menteri berusia 35 tahun saat diangkat, yaitu nadiem makariem, sisanya? bisa ditebak si itu lagi itu lagi.
Pengangkatan Stafsus Milenial
Setelah pemilu melelahkan dan menyita perhatian khalayak ramai dengan persidangan berjilid-jilid yang ujung-ujungnya adalah "satu gerbong" kita dihadapkan pada pengangkatan 7 Staf khusus milenial yang membuat banyak pihak mengernyitkan dahi. Urgensi dari staf khusus milenial ini patut dipertanyakan. Okelah kalau alasannya karena bonus demografi yang sering di sebut-sebut kala pemilu, lha terus apa? . Penamaan stafsus milenial dan ceremony pengangkatan ke tujuh stafsus (padahal ada 14 stafsus) menjadi pertanyaan besar.Publik pun memanas ketika tau besaran gaji 51 juta per bulan tanpa jam kerja dan tanpa harus meninggalkan pekerjaan ataupun jabatan dari bidang yang digeluti. Ini semacam anak magang yang dikasih gaji kerja full-time. hmm, nama PT nya apa ya?
Rangkaian Blunder Stafsus Milenial
Stafsus milenial diharapkan bisa menjadi jembatan bagi para milenial dan menghilangkan kekakuan di lingkaran istana, kalau kata mereka yang setuju, salah satunya seperti yang diungkapkan Djarot Saiful Hidayat . Kenyataannya? ya benar. Stafsus telah menjalankan pekerjaannya dengan tepat dan paripurna. Billy Mambrasar misalnya, salah satu stafsus ini mengunggah pernyataan "kubu sebelah" di media sosialnya.
Kurang lentur apa coba? kalau banyak yang menganggap ini tidak sopan ya tentu bukan karena billy tidak sesuai dengan protap stafsus milenial, hanya otot leher anda aja terlalu tegang kurang kaku shay. Billy kan cuman mau kasih tau bahwa didalam pemerintah itu ada koalisi dan oposisi, jadi ya dia tulis begitu. Katanya pemerintah butuh oposisi, pas dibilang situ oposisi situ marah, kaku situ ih. Dia kan mau mengikuti cuitan dari pak pres yang lenturnya bukan main gak ada kaku-kakunya.
Selain Billy, stafsus lain seperti Angkie Yudistia yang berbagi tips sehat di akun instagramnya juga dirajam oleh netizen.
"tolong hapus postingan HOAX lo di instagram" kata akun @mazzini.gsp. Meskipun akhirnya Angkie mengeluarkan permintaan maaf. Menurut saya apa yang dilakukan Angkie sudah sesuai dengan protap. apanya coba yang salah? media yang digunakan instagram, yang dishare tips, dan tujuannya untuk menjadi jembatan bagi kaum milenial, ya cara yang ditempuh sudah sangat benar tentunya. Perkara info yang dibagi ternyata hoaks ya itu cerita lain. Nggak perlu kakak Anggie yang nyebar hoaks, Al Mukarrom Menteri Kesehatan Terawan juga sebar hoaks.
Perlu diingat, hoaks itu tuh millenial banget.
Duo CEO Startup Belva Devarra (Ruang Guru) dan Andi Taufan (PT. Amarta Fintech) yang menjadi sorotan karena keterkaitan dua perusahaannya dengan program pemerintah. ya, anda-anda ini jangan su'udzzon dulu, maksud mereka ini baik, untuk membantu pemerintah bahkan Andi Taufan inisiatif dulu untuk kirim surat ke desa-desa tanpa melewati gubernur dan bupati langsung ke desa pakai kop kabinet, dicatat ya, Kop Kabinet. Ini semua dalam rangka menghilangkan birokrasi bertele-tele dan kaku ala-ala Soeharto. ini tuh milenials banget, gak pake babibu langsung sat set. Sanggingkan banyaknya netizen yang bersuara dengan kang mas Andi, sampai-sampai ada yang merevisi suratnya ala-ala dosen pembimbing skripsi.
Belva Devarra juga gak ketinggalan keikutan kena semprot. Sabda beliau tentang menyalakan lilin ditengah pandemi ini menjadi sorotan, kesannya puitis namun bukan puisi yang kita butuhkan, kita butuh sembako pak sembako. kita udah kenyang makan puisi.
dan berikut berbagai semprotan dari netizen
Belum lagi perusahaan Belva yang menjadi bagian dari salah satu perusahaan rekanan pemerintah dalam program pra kerja, sebuah kegercepan yang hakiki yang mencerminkan bagaimana milenial yang masih lincah dan lentur.
Kesimpulan
Kesimpulannya kalian semua iri, begitupun saya, saya juga iri. Tapi tenang saudara-saudara, iri kita beralasan. Kalau sekedar untuk jadi teman diskusi harian, mingguan dan bulanan, stafsus ini terkesan membuang-buang anggaran demi mengakomodasi kepentingan banyak pihak. Kenyataannya stafsus milenial tidak menyentuh semua kalangan dan tidak memberikan tindak tanduk nyata bagi kalangan milenial. Penyebutan milenial pun tidak resmi, dan saya rasa tidak perlu ada ceremony khusus untuk pengangkatan staff khusus ini. Ditengah pandemi, dimana emosi menggugah jiwa, dan banyak orang mulai kekurangan, kenyataan stafsus milenial berjumlah 7 orang dengan gaji 51 juta rupiah per orang tentu akan membuat perih warga muda yang disuruh menyalakan lilin ditengah pandemi oleh Belva Devarra.












Komentar
Posting Komentar
tolong di komentari,