Panduan Lengkap Bagi Kamu yang masih Tanya Bedanya Pulang Kampung dan Mudik.


DISCLAIMER : ARTIKEL INI ADALAH ARTIKEL SERIUS, BUKAN SATIR. TAPI PLIS, MBOK JANGAN DIKAITKAN DENGAN SAYA MENDUKUNG SI A ATAU SI B. BIASA AJA.

Saya sebenarnya ragu-ragu mau mengeluarkan artikel ini, karena sepertinya moment-nya sudah lewat beberapa waktu yang lalu. Tapi gairah menulis saya jadi terpancing kembali ketika tahu masih banyak juga pihak-pihak yang bermain dalam kesempitan untuk memanfaatkan moment ini. Kamu masih ingat nggak beberapa waktu lalu ketika diwawancarai oleh Najwa Shihab, presiden kita Ir. H. Joko widodo sempat diberondong beberapa pertanyaan terkait situasi Indonesia dalam menghadapi wabah pandemi Covid-19 ini? masih inget kan? masih dong? pliss pliss..
Di antara banyaknya pertanyaan mbak Nana yang diberondongkan ke beliau, ada satu pertanyaan yang "menggelitik" ketika mbak Nana menanyakan kepada beliau bedanya pulang kampung dan mudik? pak Joko pun dengan tegas berkata bahwa "ya beda!" dengan irama yang terdengar di telinga saya sedikit agak ngegas, gak tau deh di telinga anda seperti apa. Saat itu istri juga menyetujui kalau iramanya pak Joko emang agak ngegas. Maklum lah, kondisi seperti ini, pak Joko mungkin banyak pikiran, dan ketika diberondong pertanyaan yang bisa menggiring persepsi publik dan tidak sesuai dengan persepsinya, ya mungkin jadinya agak ngegas.
Tapi dalam hal ini, saya paham kok maksud tuan Sri Paduka Presiden. Pulang kampung sama mudik itu emang beda woy. Jadi menurut hemat saya, mudik udah pasti pulang kampung, nah pulang kampung belum tentu mudik. Nah lho, bingung kan? nafas dulu, jangan sumbu pendek dulu, santai dulu, jangan langsung menuding saya buzzer pemerintah ya. Mungkin kamu harus liat artikel-artikel lain di blog ini biar tau bahwa saya netral. Saya akan bagi pendapat saya tentang mudik dan pulang kampung berdasarkan 3 aspek yaitu : niat, tujuan dan lelaku.

Niat

Secara niat, mudik dan pulang kampung adalah dua hal yang berbeda. Memang mungkin tujuan secara Dzhohir-nya sama, yaitu menuju kampung, mau itu kampung istri kek, kampungmu kek, atau kampung guru ngajimu, pokoknya selama ada kata "kampung" ya itu bisa diartikan mudik bisa juga diartikan pulang kampung. Lalu bedanya secara niat apa? bedanya disini "Nawaytu pulang kampung untuk nggak kembali lagi kecuali ada peluang lillaahi ta'ala". Sedangkan kalau niat mudik adalah begini "nawaytu mudik sebentar aja penting ketemu orang tua karena kesempatan masih ada dan masih ditunggu bos disana lillaahi ta'ala". Loh jangan salah, harus lillaahi ta'alaa, biar barokah, karena mencari rezeki itu adalah kewajiban setiap Muslim di dunia

Tujuan

Perlu diingat bahwa maksud tujuan disini adalah tujuan bathiniyyah-nya ya, bukan tujuan dzhohiriyah-nya. Nah, kalau mudik itu secara bathiniyyah tujuannya adalah untuk melepas rindu, framing status sosial dan mempertahankan adat istiadat secara kebudayaan. Sehingga perlu diingat bahwa mudik itu dilatarbelakangi oleh keinginan semata. Sedangkan pulang kampung adalah untuk melepas lapar, melanjutkan kehidupan, dan memastikan bahwa napas masih tersambung untuk mengejar kesempatan hidup. Perbedaannya kiat terang bukan? bahwa pulang kampung adalah perkara kebutuhan.

Lelaku

Secara lelaku mudik dan pulang kampung juga berbeda. Karena keinginan yang melatar belakangi, pemudik cenderung tidak berpikir terlalu panjang. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh sulitnya ketersediaan akomodasi yang memadai. Belum lagi persyaratan untuk dapat menyadang predikat sebagai pemudik juga memperhatikan faktor waktu, dan dua faktor lain diatas. Sedangkan untuk pulang kampung sejatinya tidak harus memanfaatkan moment tertentu. Karena pulang kampung sejatinya bisa dilakukan kapan saja, terutama ketika kamu sudah kehabisan akal untuk bisa menyambung hidupmu, maka pulanglah nak, dikampung juga kesempatan banyak.

Kalau pulang kampung dan mudik berbeda apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah?

Saya faham betul mengapa masih banyak orang yang berusaha untuk bisa pulang kampung, dan plis tolong jangan disamakan dengan mudik. Mereka tidak ada pilihan, ketikan mereka memilih bertahan diperantauan, ya mereka bisa mati karena kekurangan makan, daya tahan tubuh berkurang, mudah tertular virus Corona, dan akhirnya sungguh menyedihkan, mati. Sehingga membiarkan orang bertahan di zona merah tanpa adanya kesempatan tentu sangat mengerikan. Tapi dalam hal ini seharusnya pemerintah mengambil peranan penting untuk melakukan pendataan, dari perspektif angka harapan hidup calon orang yang pulang kampung, penyediaan tempat isolasi yang layak sebelum pulang ke rumah masing-masing dan juga penyediaan moda transportasi yang mendukung pencegahan pandemi secara meluas. Perlu diingat, mereka yang memilih untuk pulang bukan karena keinginan, bukan juga karena kerinduan, tapi karena kebutuhan mereka untuk menyambung hidup layaknya para buruh bangunan, buruh bengkel yang mungkin selama Corona perusahaan yang mereka gantungkan untuk bertahan hidup ternyata tak mampu bertahan. Di sini, corona pun menjadi sebuah pembelajaran besar dimana sebaiknya Jakarta tidak lagi menjadi sentral bagi semua kegiatan perekonomian. Belajarlah sedikit dari Amerika, dimana mereka memisahkan pusat pemerintahan (Washington), pusat perkatoran (Los Anggeles), pusat hiburan (Holywood), pertanian (North Carolina), dan  pusat maksiat (Las Vegas). Intinya, seandainya-pun pemindahan ibu kota benar terjadi. Jangan jadikan ibu kota berikutnya sebagai Jakarta 2.0 dimana seluruh masalah satu negara bergelut disana.

Wallaahu'alam Bisshawaab.

Komentar